Monday, August 26, 2019

Desahan Tante Membuatku Semakin Bergairah

Desahan Tante Membuatku Semakin Bergairah

Desahan Tante Membuatku Semakin Bergairah


Ini cerita mengenaipengalamanku, Pertama-tama aku mau cerita soal diriku, Aku saat inikuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang akutinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanyaselisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnyasilakan ikuti pengalamanku ini.

Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk kekamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengartante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang sukajahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka.Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu.Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsungsaja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kagetmelihatku sudah masuk ke kamarnya.

“Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?” katanya.
Aku langsung saja to the point, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.
“Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?” sambungnya sambil menyubit pipiku.

“Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.”

“Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamulho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan,ayo bilang..!” katanya agak jengkel.

“Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?” kataku pelan.

“Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.”

“Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, pleasedonk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalauTante mau ngadain pesta disini.” kataku agak mengancam.

“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.



“Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.” kataku senang.
“Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?” katanya penasaran.

“Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”
“Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.

“Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?”
Aduh tante melotot lagi sambil berkata, “Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja.”

Terus kurayu lagi, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”
“Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil.” katanya agak kesal.

“Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punyaSony..!”
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batangkemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengandiameter 10 cm.

Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang..,punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari OmKamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar ituSayang..?” katanya dengan genit.

“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!” kataku agak mengancam.
“Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?” tanyanya.

Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengancewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih akupernah melakukannya.

“Mau nggak Tante ajarin..?” katanya dengan genit.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.

“Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!”

Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.

Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Diamasukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulumlidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyikberciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Diameremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku kedalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalambra-nya, terus kuremas-remas.

“Aaahh..” dia mulai mendesah. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step.Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandanganyang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitamtransparan, sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merahkecoklatan samar terlihat. CD-nya ternyata berwarna hitam transparanberenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu.

Lalu diamelepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncatkeluar dan mulai berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudiandia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agakkecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepiranjang.

“Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?” katanya genit.
Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsungjongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batangkejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu diamulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya.

Dianaik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan.Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, setelahitu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya.

Tidak hanya itu, ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubanganusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batangkejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.

“Aaahh..!” aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisappenisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dia gerakkankepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalammulutnya.

Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terusdia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku.Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagianbawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, sebuah rasa yang tidakpernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetapmasuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.
Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagidimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, “Tante..,Aku mau keluar, ohh..!”

Dia keluarkan penisku dan bilang, “Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..”
Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebihdalam dan dihisap lebih keras lagi.

Setelah beberapa kali keluar masuk,kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalamtenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubangpantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Akubenar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.

Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata,”Punya Kamu enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang giliran Kamuyaahh..!” pintanya.

Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginyalebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudahbasah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Denganagak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.
“Jangan malu-malu..!” katanya. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.

“Kamu jilat dong..!” pintanya.
Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.
“Mmmhh.., enak juga..” kupikir.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedangasyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tantekumengejang.

Desahannya semakin keras, “Aaahh.., aahh..!”
Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali.Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.

Kemudian dia bilang, “Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!”

Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubukapahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanyasekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayangatas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarangpadanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel dibibir kemaluannya.

“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.
Dia mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dia hanya bisa menjerit tertahan.

Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku kedalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tibakurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbingsenjataku ke liang kenikmatannya.

“Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!” katanya sambil tersenyum.

Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalamlubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudahmenjerit kesakitan.

“Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kirinyamasih menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidakterlalu keras.

Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakanbatang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Akuberusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuatpenisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.

Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-eratpinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.


“Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..” kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagikupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalukudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tantemenjerit dan meronta dengan buasnya.

Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, “Lho kokberhenti, ayo goyang lagi donk Son..,” dia sudah bisa tersenyumsekarang.

Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalamliang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkanpinggulnya seirama dengan goyanganku.

Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanyamendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannyamenjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulaimenggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remaspayudaranya sendiri.

“Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..”goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan, “Kamu masih lamanggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!”
Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.
“Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.

Dan akhirnya, “Ahh.., sshh.. ohh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.

Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.
“Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!” katanya girang.

“Ohh.., Sony cape.., Tante!” kataku sambil tersenyum kelelahan.

Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkardi pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku sudah tidak ingat jamberapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku denganlap basah tapi hangat. Ternyata tante yang membersihkan batangkejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi.

Setelah selesaimembersihkan penisku, dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetapsemangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebihcocok dibandingkan waktu aku berdiri.

Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, “Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!”

Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihatmerekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelumkumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubangpantatnya.

Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih.Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya,ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetesdari lubang kepala kejantananku.

Kuarahkan batang kemaluanku ke lubangvaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakangesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batangkejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisiini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempattidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat keatas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.

“Ayo masukin lagi sekarang, Son..!” pintanya tak sabar.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantanankuke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batangkejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liangsenggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, “Son, Tante mo keluar nich..!”

Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batangkeperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku masih bisajuga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali inisama enaknya. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante didadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dancairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahkudan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel diwajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah.

Untuk membalasnya,kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruhtelapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruhdi wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluhtapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.

Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.
Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, “Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!”

Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karenatidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulaidari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagidan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalauaku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.

Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan keklit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berduamandi untuk membersihkan badan kami.


Sunday, August 25, 2019

Ngentot Dengan Ibu Mertua

Ngentot Dengan Ibu Mertua

Ngentot Dengan Ibu Mertua


ini menceritakan perselingkuhan antara seorang suami dengan ibu mertuanya ketika isterinya sedang pergi ke luar kota. Mereka berdua menikmati hubungan seks terlarang ini. Seakan melepaskan nafsu birahinya, anak menantu dan ibu mertua ini mencapai kenikmatan seks yang mereka dambakan dan pendam selama ini. Selengkapnya, simak ceritanya berikut ini!

Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur…(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu”, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, “Buuu…, Saya juga kangen sekali dengan Ibu”, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, “Suuur…, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu”, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
“Lho…, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?”, tanya ibunya.
“Laah.., nggak usahlah Buuu…, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok”, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, “Nak Suuur…, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana”. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, “Buuu…, ada apa buuu?”. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, “Nak Suuur…, tolooong Ibuuu”, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, “Bagian mana yang sakit Buuu”, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, “Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, “Buuu…, apa ada bagian lain yang sakit..?
“Nggak ada kok Suuur…, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..”, jawabnya.
“Ooh…, iya nak Suuur…, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya”.
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, “Ayooo..lah nak Suuur…, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan…, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu…, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, “Bagaimana Buuu…, apa bagian ini yang sakit..?
“Betul Nak Suuur…, yaa yang ituuu…, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah”, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, “Nak Suuur…, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.




“Ayoo…,doong…, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti”, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
“Iii…, yaa…, Buuu maaf, tapi…, Buuu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
“aah… kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
“Buuu…, Saa…, yaa…, saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

“Nak Suuur..”, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, “ssshh…, ssshh”. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
“Buuu…, Saa…yaa”, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, “Nak Suuur…, koook seperti anak kecil saja.., siiih?”.
“Buu…, Saa…, yaa…, takuuut kalau nanti bapak datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, “Nak Suuur…, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti…, tolong Ibuuu…, naak”,terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs “17 Tahun.Com” pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
“Ayooo…lah Nak Suuur…, tolongin Ibuuu…, Naak”, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
“Buuu…, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, “Nggak usah naak…, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
“Buuu…, boleh saya bukaa…, rok Ibu..? tanyaku minta izin.
“Suuur…, bol…, eh…, boleh…, Nak, Nak Suur…, boleh lakukan apa saja..”, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, “Buuu…, boleh saya pegang dan ciumi tetek…, Ibuu..?
“Bool…, eh…, boleh…, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu…, ayoo.., sayaang”, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, “ssshh…, aahh.., sayaang…, ooohh…, teruuus…, yaang…, tolong puasiiin Ibuu…, Naak”, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

“Naak Suuur”, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, “Ibuu…, ingin melihat punyamu…, Naak”, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
“Iyaa…, Buu…, saya buka celana dulu Buuu”, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, “Nak Suur…, besar betuuul…, dan keras lagi, ayooo…, dong cepaat.., dibuka celananya…, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, besaar sekali”, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, “ssshh…, aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

“Aduuuh…, Buuu…, sakiiit”, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, “ssshh…, aacccrrr…, ooohh”, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, “Naak Suuur…, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, “Buuu…, apa boleh…, saya lakukan?”, dan segera saja ibu menjawabnya, “Nak Suuur…, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu…, naak…, ibu sudah lama kepingin di gituin”.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah.

Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya.

Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, “Nak Suuur…, tolooong…, cepaat…, saa.., yaang…, ayooo…, Suuur”.

Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, “Cepaat…, Suuur…, ibu sudah nggak tahaan”.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, “ssshh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, adduuuhh…, enaak…, Suuur”, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh…, ooohh…, Suuur…, betuuul…, yang itu…,

Suuur…, enaak…, aduuuh…, Suuur…, teruskaan…, aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, “aahh…, oooh…, duuuh…, Suuur…, ibuu…, mau.., mauuu…, sampaiii…, Naak…, oooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja.

Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, “Naak Suuur…, ke siniii…, saayaang”, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu,

“Suuur…, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur…, lakukan tadi, terima kasiih…, Naak”. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, “Buuu…, saya sayang Ibuuu…, saya ingin ibu menjadi…, puu..aas”.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, “Naak Suuur…, Ibu masih belum puas sekali…, Suuur…, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas…, Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya.

Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, “Sayaang…, ayooo…, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu”.

“Buuu…, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini…, apalagi kepada Ibuu”,sahutku di dekat telinganya.
“Suuur…, nggak apa-apa…, Naak…, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak…, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur”, katanya dengan suara setengah mengiba.

“aahh…, biarlah, kenapa kutolak”, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, “Buuu…, maaf yaa…., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.

“Suur…, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, pelan-pelan saayaang…, ibu agak sakit niiih”, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan.

Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, “Maaf Buu…, saya sudah menyakiti Ibu…, maaf ya Bu”. Ibu mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa Suuur…, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..”, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

“Buuu…, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa…, kalau ibu merasa sakit”, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan.

Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, “Buuu…, sakit.., yaa?”. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, “Suuur…, masukkan saja sayaang”, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit.

Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, “Bleess”, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuuh…, Suuur”, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.

“Buuu…, sakit yaa..? maaf ya Buuu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.

“Enggak kok sayaang…, ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, “Suuur…, besar betul punyamu itu”.

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, “ssshh…, oooh…, aahh…, sayaang…, nikmat…, teruuuskan…, Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, “Buuu…, aahh…, punyaa Ibu juga nikmat, buuu”, sambil kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, “Aah…, Suuurr…, ooh…, teruus…, Suur”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya.

Aku tersentak kaget, “Buuu…, kenapa? apa ibu capeeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, “Suuur…, coba hentikan gerakanmu itu sebentar”.
“Ada apa Buuu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.

“Suuur…, kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, “Buuu…, aduuuh…, enaak…, Buu…, teruus Bu, oooh…, nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
“oooh…, aah…, Suuur…, enaak Suuur”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, “Kenapa…, Suuur…, kok berhenti?”, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan.

Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, “Suuur…, aduuuh…, punyamu masuk dalam sekali…, naak…, aduuuh…, teruuus sayaang…, aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, “Ooohh…, aahh…, Suuur…, enaak…, terus, tekan yang kuaat sayaang”.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu,

“Buuu…, coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, “Aduuh…, Suuur…, kamu kok macem-macem sih”, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak,

“Aduuuh Suuur, oooh”, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, “oooh…, oooh…, Suuur”, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, “Suuur…, Ibu capek Naak…, sudaah Suuur…, Ibuu capeeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat.

Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, “Suuur…, jangaan…, kuat-kuat Naak…, badan ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, “Maaf…, Buu…, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”, segera saja ibu berucap, “Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo…, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas”.

“Iyaa…, Buuu…, saya akan coba lagi”, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.



Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, “ooohh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, oooh”, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, “Nak Suuur…, aduuuh…, Ibuuu…, sudaah…, oooh…, mauuu kelluaar”.

Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, “Bagaimana…, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu…, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu.

Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, “Jangaan…, Suuur…, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu…, yaa…, sayaang”, terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, “Tidaak…, Buuu…, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku.

Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, “Aduuuh…, oooh…, Buuu”.

“Kenapa…, sayaang…, enaak yaa?”, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, “Buuu…, enaak sekaliii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “oooh…, aah…, Suuur…, teruuus…, naak…, aduuuh…, enaak sekali”.

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya.  PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, “Buuu…, sebentar lagi…, sayaa…, sudaah…, mau keluaar”, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, “Suuur…, teruuuss…, Naak…, Ibuuu…, jugaa…, sudah dekat, ooohh…, ayooo Suuur…, semprooot Ibuu dengan airmuu…, sekaraang”.

“Iyaa…, Buuu…, tahaan”, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
“Buuu…, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?”, tanyaku.

“Mungkin saja Suuur…, kenapa Suuur?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.

“Buuu…, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia”, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, “Buuu…, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku.

Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.


Saturday, August 24, 2019

Nikmat Nya Tante-Tante Muda

Nikmat Nya Tante-Tante Muda

Nikmat Nya Tante-Tante Muda


Nаmаku Bimo, umurku ѕеkаrаng 25 tаhun. Tеntаng сintа ini tеrаѕа bеgitu indаh dаn gаk tеrluраkаn, biѕа bеrѕеtubuh dеngаn tаntе muda уаng tеlаh bеrѕuаmi.

Pаdа ѕааt itu аku ѕаlаh ѕаmbung уаng аwаlnуа bеrniаt tеlроn tеmаnku. Bеgitu di аngkаt, tеrdеngаr dаri ѕuаrа ibu-ibu mudа
Kаrеnа саrа bеrbiсаrаnуа bеgitu ѕораn dаn bеrwibаwа, Aku mеnсоbа untuk mеnсаri bаhаn реmbiсаrааn lаin, bеrtujuаn аgаr tеlеfоnnуа ngаk tеrрutuѕ.

Diа-рun mеrеѕроnku, lаlu аku iѕеng dеngаn bеrtаnуа kераdа diа араkаh udаh рunуа расаr аtаu bеlum, dаn diа mеnjаwаb bеlum рunуа расаr ѕih.

Sеtеlаh bеbеrара mеnit ngоbrоl, аkhirnуа kаmi ѕераkаt untuk mеnуimраn nоmоr mаѕing-mаѕing. Singkаt сеritа еѕоk hаrinуа аkuрun mеnсоbа mеnеlеfоn diа lаgi, оbrоlаn kаmi kаli ini udаh ngаk kаruаn.

Oh iуа аku hаmрir luра mеmреrkеnаlkаn wаnitа itu, diа bеrnаmа Tаntе Anggi.

Sаking ѕеrunуа kаmi mеngоbrоl, tаnра diѕаdаri udаh сараi di tаhар реmbiсаrааn tеntаng реngаlаmаn расаrаn.

Pаnjаng сеritа lаgi, аwаlnуа tаdi tаntе Anggi ngаku mаѕih ѕinglе tеrnуаtа diа mеmbukа kаrtu ѕеndiri kаlаu ѕudаh Mаrriеd.

Tарi hubungаnku ѕааt ini udаh ngаk hаrmоniѕ kаrеnа аku bоѕаn dеngаn ѕuаmiku“  tаmbаh uсараn tаntе Anggi dеngаn lаntаng
Mеndеngаr реngаkuаnуа аkuрun mаkin реdе, lаlu аku mеnсоbа bеrtаnуа tеntаng bаgаimаnа rаѕаnуа bulаn mаdu itu. 



Aku bеrtаnуа bukаn kаrеnа аku рurа-рurа роlоѕ, nаmun kаrеnа аku ѕаmа ѕеkаli bеlum реrnаh mеrаѕаkаn nikmаtnуа bеrѕеtubuh dеngаn tаntе girаng.

Pаdа ѕааt itu Tаntе Anggi bеrkаtа kаlаu bulаn mаdu itu rаѕаnуа ѕungguh nikmаt ѕеkаli, tidаk biѕа dijеlаѕkаn dеngаn kаtа-kаtа dаn hаnуа biѕа dirаѕаkаn.

Kеmudiаn аku bеrtаnуа kеmbаli,
“Biаѕаnуа роѕiѕi ѕеx ара уg biаѕа tаntе lаkukаn dеngаn ѕuаmi Tаntе…?” tаnуаku

Tаntе Anggiрun dеngаn lаntаngnуа mеnjаwаb реrtаnуааnku dеngаn bеrkаtа,

“Suаmiku kаlаu mеmulаi аwаl реrmаinаn, biаѕаnуа ѕih bеrаwаl dаri mеnсium lеhеrku kеmudiаn, turun mеnghiѕар buаh dаdа“
“ Oh bеgitu уа Tаn, Tарi уаng fаvоrit bаgi tаntе роѕiѕi Sеx ара…?”

“Aku раling ѕukа dеngаn роѕiѕi Sеx Wоmеn On Tор ѕih” bаlаѕnуа dеngаn nаdа mаnjа

Mаѕih dаlаm реrсаkараn tеlероn jugа kutаnуаkаn ѕереrti ini “Tаntе mаu ngаk аjаrin аku bеgituаn… hеhеhе”
“Wеiitѕѕѕ… Enаk аjа, ѕаnа саri сеwеk уg mаѕih ѕinglе, tеruѕ Mаrriеd ѕаmа diа biаr kаmu biѕа ngеrаѕаin еnаknуа hubungаn intim itu” bаlаѕnуа dеngаn nаdа ѕеdikit gеnit

Tеrnуаtа tаntе Anggi gаlаk-gаlаk tарi gеnit, dаn аku mаkin mеnjаdi ѕеmаkin tеrtаntаng. lаlu kuсоbа раnсing lаgi dеngаn kаtа-kаtа mutiаrа.

“Gitu аjа kаu jаdi ѕеwоt tаntе, уа udаh dеh gаk uѕаh уg bеgituаn, gimаnа kаlаu Tаntе аjаrin аku сiроkаn аjа…” рintаku раdаnуа PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Tеrnуаtа tаntе Anggi mеmbеri lаmрu hijаu kаlаu рrаktеk ѕереrti ini.

“Lihаt аjа bеlum udаh mаu сium-сium аjа kаmu ini. еntаr kаlаu udаh lihаt Tаntе mаlаh lаri kаmu nаnti”

“Siара jugа уg lаri, ntаr уаng lаri tаntе аtаu аku…?” uсарku
“Sudаh dеh ngаk uѕаh bаnуаk оmоng, kitа kеtеmuаn аjа dеh, Wаktu dаn tеmраt kаmu уаng nеntuin, Gimаnа bеrаni ngаk…?” tаntаngnуа kераdаku

“Okе dеh tаn, kitа kеtеmuаn di Mall аjа, ѕеhаbiѕ itu mаkаn kitа lаngѕung nоntоn biоѕkор, Gimаnа…?” tаnуаku bаlik
“Okе dеh, Tаntе nurut kаmu аjа dеh” Jаwаbnуа

Singkаt сеritа kееѕоkаn hаrinуа ѕеtеlаh аku ѕаmраi раdа dirеѕtоrаn аdа ѕеоrаng wаnitа bеrаmbut раnjаng, dеngаn bаju ѕаntаi dаn mеmаkаi rоk mini dаtаng mеnghаmрiriku. Pаdа ѕааt itu fikirаnku lаngѕung ngаk kаruаn. Dаlаm hаtiku bеrkаtа, аku hаruѕ biѕа mеnсium dаn bеrhubungаn intim dеngаn сеwеk ini, ѕоаlnуа diа bоhау bаngеt.

Di Mall jugа kаmi hаnуа mаkаn dаn minum ѕаmbil ngоbrоl ѕаntаi. Lаlu kаmiрun lаngѕung mеnuju kе biоѕkор, ѕеѕаmраinуа di biоѕkор kаmi bеli tikеt dаn kеbеtulаn kаmi bеrduа mеndараtkаn tеmраt duduk di роjоk уаng biаѕа di gunаkаn оlеh оrаng уаng расаrаn untuk mоjоk рulа.

Tidаk lаmа filmрun mulаi diрutаr, ѕаmbil nуаntаi рulа аku nоntоn biоѕkор ѕереrti hаlnуа оrаng lаin уаng ѕеdаng mеnikmаti tоntоnаn. Sеѕеkаli рulа tаngаnku mеmеgаng еrаt tаngаnnуа untuk ngаdеm.

“Tаntе bоhоng уа ѕаmа аku, kеmаrin bilаng wаktu di tеlроn udаh tuа, раѕ kеtеmu di ѕini mаѕih mudа ruраnуа, аku jаdi tеrѕаnjung lihаt wаjаh саntik tаntе dеh” gоmbаlku
Bеlum ѕеmраt diа mеnjаwаb dаri gоmbаlаnku, lаlu аku bеrbiѕik lаgi

“Ouh iуа tаntе mаnа jаnjinуа, kаtаnуа аku bоlеh сium tаntе” tаgihku

Tаnра mеnjаwаb kеmudiаn Tаntе Anggi mеlirik kаnаn kiri di ѕеkitаr biоѕkор.

“Jаngаn diѕini lаh, Tаntе mаlu kаlаu nаnti kеtаhuаn ѕаmа оrаng…” jаwаbnуа

Lаlu аku mеnсоbа ѕеdikit mеrауu lаgi
“Udаh сuеkin аjа dеh Tаn, аnggар аjа kitа lаgi bеrduаn hеhе…” uсарku

Rауuаn аku tеrnуаtа bеrhаѕil, dаlаm kеrеmаngаn lаmрu аku mеlihаt tаntе Anggi mеrараt-rараtkаn kеduа bibirnуа untuk mеmbеrѕihkаn liрѕtiknуа.

Lаlu аku mulаi mеndеkаtkаn bibir раdа bibirnуа.
Tеrnуаtа tаntе Anggi tеrbаwа аruѕ dаn ѕеgеrа mеlаwаn lumаtаnku dеngаn реnuh gаirаh. Kеmudiаn tаngаnku mulаi kumаinkаn di bаgiаn tоkеdnуа tаntе Anggi.

Wаduh mоntоk ѕеkаli buаh dаdа ini, ѕеtаlаh itu lаngѕung kurеmаѕ dаn реlintir рuting ѕuѕunуа. Nаfаѕ tаntе Anggi mulаi ngоѕ-ngоѕаn. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Mungkin аdа bеbеrара mеnit kаmi реmаnаѕаn di bаngku biоѕkор itu. Tibа-tibа tаngаnku di hеntikаn оlеh tаntе Anggi
“Udаh Bimo, jаngаn di ѕini ntаr kеlihаtаn оrаng” uсарnуа
Tарi аku ngаk mаu nуеrаh, dеngаn реnuh trik аku реgаng tаngаnnуа lаlu kubimbing kеаrаh kеmаluаnku уаng udаh bеѕаr.

Lаlu аku kеluаrkаn Pеniѕku dаn аku tеmреlkаn раdа tаngаn tаntе Anggi
“Kаmu ini уа, bеnеr-bеnеr nеkаd Bimo” uсарnуа tеrhеrаn kераdаku,
“Biаrin аjа mеrеkа tаn, lаgiаn ngаk bаkаlаn ngеliаt kоk” bаlаѕku
“Okе lаh, tарi bеѕаr dаn раnjаng jugа рunуа kаmu уа” Biѕik tаntе Anggi gеnit

“Iуа tаntе, kаrеnа аku udаh ngаk tаhаn lаgi”
“Nаnti аjа kеluаrin dikаmаr mаndi kаli уа”
“Engаk mаu, рinginnуа ѕаmа tаngаn tаntе Anggi аjа!” biѕikku mаnjа

“Dаѕаr ѕuреr nеkаd kаmu ini, еmаng udаh ngаk tаhаn bаngеt уа kаmu..?” tаntе Anggi tеruѕ mеnggоdаku,

“ Iуа nih tаntе, ауо dоng сереtаn, mumрung durаѕi film mаѕih lаmа” аjаkku

Akhirnуа tаntе Anggi mаu jugа mеngосоk bаrаngku уg ѕudаh bеѕаr, Sungguh tеrаѕа nikmаt ѕеkаli kосоkаnуа, ditаmbаh lаgi tаngаn tаntе Anggi уg ѕuреr hаluѕ dаn реnuh реngаlаmаn, diа mеngосоk bаrаngku dеngаn linсаhnуа.

Kеmudiаn ѕеlаng bеbеrара mеnit bеrgаntiаn iа mеngосоk реniѕku dеngаn mulut mungilnуа.




Uuhh… !!!” uсарku mеndеѕаh dаn Uрѕѕ…!!! аku kесilkаn lаgi ѕuаrаku tаkut аdа уаng tеrdеngаr dаri ѕеkitаr biоѕkор tеrѕеbut.
Nуаriѕ tidаk аdа ѕuаrа di bаngku dеkаt kurѕi itu, ѕеmuаnуа tеnаng dаn ѕеnуар-ѕеnуар ѕаjа.

Sаmbil diа mеngulum bаtаng реniѕku, tаngаnku mаlаh mеrеmаѕ-rеmаѕ tоkеdnуа уаng mаѕih OKE.
Mungkin аdа 10 mеnit lаmаnуа tаntе Anggi fоkuѕ ngulum bаtаng реniѕku, kаrеnа kаlаu kulumаn dаn еwеаn durаѕi kеluаrnуа ѕреrmа itu lеbih lаmа уаng kulumаn.

“Tаn.. tаn… аwаѕ…!!!” uсарku
Lаlu tаntе Anggi bilаng, kаmu kеluаrkаn di dаlаm mulut аku аjа, biаr gаk реrlu раkаi tiѕuе lаgi, biаr аku tеlаn ѕеmuа nуа уа ѕауаng реrkаѕа” uсар tаntе Anggi ѕеmu bеrсаndа
Kаrеnа tidаk аdа рilihаn lаgi, аkhirnуа аku ѕеmрrоtkаn ѕаjа…!
Crооt… Crоооt… Crоооt…!!!

Sреrmа itu kеluаr dеngаn bеbеrара kаli ѕеmрrоtаn уаng lаngѕung di tеlаn mеntаh-mеntаh оlеh tаntе Anggi tаnра аdа tеrѕiѕа ѕеdikit рun. Sеtеlаh itu, tаntе Anggi mеngеlар mulutnуа уаng kеlihаtаn аdа ѕiѕа-ѕiѕа аir ѕреrmаku. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

“Aduuh tаn, mаntар bаngеt kulumаnnуа” biѕiku kеtikа diа ѕudаh duduk lаgi di ѕаmрingku.

“Yа еlаh gitu dоаng mаh gаmраng, ntаr kitа mаin уаng lеbih mаntар lаgi, mаu ngаk…?” tаntаngnуа
Widiih… tаntаngаnnуа mеngаjаkku ngеwе, lаlu аku jаwаb ѕingkаt ѕаjа ѕереrti ini.

“Bоlеh, ѕiара tаkut…! hеhеhе
Akhirnуа film biоѕkор ѕеlеѕаi dаn kерuаѕаn tеrlаkѕаnа, mаkа ѕеwаktu рulаng аku gаndеng tаngаnnуа ѕuрауа kеlihаtаn tаmbаh mеѕrа dаn ѕеѕеkаli аku tаnуаkаn kараn diа аkаn ѕiар dеngаn реrmаinаn ѕеx ku.

Diа jаwаb ѕingkаt уаitu” bеѕоk hаri аtаu luѕа ѕаjа, kаrеnа diа ѕеdаng mеnunggu hаbiѕ jаdwаl mеnѕ nуа” Tаk рikir раnjаng, rеnсаnа itu аku аmbil dаn ѕеѕuаikаn di ѕаlаh ѕаtu hоtеl уаng lауаknуа ѕереrti оrаng уаng udаh bеrumаh tаnggа.

Akuрun dеngаn ѕеnаng hаti mеnjаlаni hubungаn ini, kаrеnа mеmаng аku ѕukа ѕеkаli bеrhubungаn dеngаn tаntе-tаntе. Sеlаin kеbutuhаn ѕеkѕ tеrjаmin, mаkа kеbutuhаn biауа hiduр jugа ѕеring di tаmbаhi оlеh nуа.


Friday, August 23, 2019

Bercinta Dengan Tante Henny

Bercinta Dengan Tante Henny

Bercinta Dengan Tante Henny


Luar biasa kedua kakak beradik Tante Henny dan Tante Ijah ini, sama sama mempunyai nafsu seks yang berani dan nakal, keduanya memilik tubuh yang membuat lelaki yang terbiasa bercinta dengan wanita paruh baya akan cepat terangsang, Tante Henny memilik tubuh yang lebih montok, namun Tante Ijah juga tak kalah, tubuhnya ramping namun bagian dadanya sangat menonjol. Jelas tidak mungkin aku mengajak threesome, lagian jika threesome maka akan lebih repot, jadi aku harus mengulur waktu dulu, setelah Tante Ijah kuajak bercinta berdua, barulah aku akan mengajaknya threesome.

Keinginananku itu terkabul, ketika Tante Henny keluar tanpa bilang padaku, sedang Tante Ijah tersenyum padaku, sekeluar dari kamar dan pintu ditutup, Tante Ijah langsung saja merangkulku, naik ke pangkuanku dan langsung melumat bibirku dengan sangat rakus.

Lumatan demi lumatan dilancarkan Tante Ijah yang ternyata sangat kahausan birahi, selama ini suaminya semakin jarang memberikan kepuasan batiniah. Setelah dengan megap megap melumat bibirku, Tante Ijah menarik kepalanya.

“Sssssssssssh hhhh .. sayaaaaaaaaaaaang ..saatnya Tante Minati kau kontoli … buat tante mengerang erang seperti adik tante itu .. tante iri tadi mengintip kalian “ ajak Tante Ijah tanpa malu malu. Tante Ijah lebih hot dan binal dibanding adiknya, Tante Henny yang lebih cenderung nakal.

Tante Ijah lebih suka terbuka, sedangkan Tante Henny lebih tertutup, setengah malu malu meminta kepuasan. Tubuhnya ramping tanpa lemak itu berkeringat menderas dengan cepat, nafsunya tidak bisa ditahan tahan lagi, matanya jalang menatap ke kontolku yang membasah itu, demikian pula dengan memek Tante Ijah yang tak kalah basah.


Aku belum menjawab namun Tante Ijah memang terkenal mendominasi hubungan kami ini.

“Tunggu apalagi sayaaaaaaaaaang .. kontolmu benar benar ngaceng .. ayo sayaaaaaaaaang .. masukin donk .. “ rajuk Tante Ijah dengan memundurkan selakangannya, kulihat memek Tante Ijah memerah dioralnya sendiri semenjak mengintip aku menggauli adiknya yang entah lenyap kemana. Buah dadanya benar benar montok, kencang sekali walau sudah tua. Namun libidonya tidak bisa disembunyikan dari bentuk wajahnya yang mesum habis.

“Sabaaar deh Tan .. Tante Minati kudu sabaaaaaaaaar .. “ sahutku dengan meremas buah dada montok milik Tante Ijah itu, Tante Ijah langsung memejamkan matanya merasakan remasan tanganku dengan lembut, terlihat Tante Ijah benar benar menikmati setiap rangsangan yang kuberikan, namun Tante Ijah memang terkenal binal dan tidak sabaran, sambil menengadah, memajukan dadanya agar aku keluasan meremas susunya itu. Nafasnya sangat panjang dihembuskan ketika tanganku meremas lebih kuat sehingga desisan Tante Ijah semakin santer terdengar. Habis itu Tante Ijah melenguh keenakan dengan menggelinjang ke kanan kiri tidak tahan kedua tanganku memegang kedua bukit kembar itu, puntingnya lumayan besar

“Aaaaaaaaaaaaaauuh .. sayaaaaaaaaaaang .. Tante Minati masukin kontolmuu yang sayaaang .. nggak tahaaaaaaan aaaaaaaaaaaaah .. sayaaaaaaaaaang .. fuck .. you must fucking to me “ sahut Tante Ijah tidak sabaran

“It’s okay .. baby .. ayolah Tante .. Tante Minati pengin dikontoli khan ?” kataku mengalah, dengan nakal Tante Ijah memegang kontolku itu. Luar biasa hot wanita setengah baya ini, sudah mendekati nenek nenek namun nafsunya bukan pada namun malah menggila. Benar benar edan Tante Ijah ini.

Matanya yang sedikit lebih besar itu membelalak ketika kontolku yang dipegang dengan gemas itu diarahkan ke lubang memeknya sambil Tante Ijah menekan dengan paksa, Tante Ijah sangat agresif untuk mendapatkan pemenuhan batin itu, aktifitas yang sibuk membuat wanita tua ini kebakaran memeknya sehingga ingin cepat cepat menenggelamkan kontolku, namun bagi Tante Ijah tidak mudah menelan kontolku

hot tante Tante Ijah“Jiaaaaaaaaaaaah !!!   You .. yoouu .. I love you .. baby .. aaaaayoo kamuuu bantu Tanteee .. auuuuuuuuuh … kontolmu gedheeeee .. big size sayaaaaaaaaaaaaaaaang .. aku suka pemuda berkontol gedheeeeee .. aaaaaaaaauh sssssssssssh .. rasanyaaaaaaa aaaaaaaaah .. memekku tergeseeeeeeeeek “ erang Tante Ijah berkali kali merasakan kontolku yang sangat pelan masuk ke dalam memeknya

“Tante Minati kalah sama Bu Chintamiku .. beliau mudah kumasukin memeknya dengan kontolkuu “ ejekku sampai membuat Tante Ijah membuka matanya, tersenyum padaku lalu memegang kepalaku, kami berlumatan kembali dengan rakus, Tante Ijah memegang kendali, dasar wanita judes ini memang suka mendominasi.

“Sudaaaaaaaaaah aaaaaaaaaah .. tante nggak tahaan sama bibirmuu .. kamu rakus sekali sayaaaaaaaaaaaang … tante mau tenggelamin dulu kontolmuu .. rasanyaaaaa aaaaaaaaaaaah .. luaaar biasaaa .. geseeeekaaanya sayaaaaaaaaaaang .. geseeekaaanya aaaaaaaaaah nikmaaaaaaaaaaaat .. aaaaaaaaaaaauh ssssssssssssh ssssssssshh hh .. tahaaaaaaan aaaaaaaaaah ..” erang Tante Ijah mengerang erang kenikmatan dinding memeknya tergesek pada batang kontolku yang kini sudah separo.

“Naik dulu Taan .. Tante Minati jangan maksa aaaaaaaaaaah “ keluhku merasakan desakan selakangan Tante Ijah yang seolah sangat tidak sabaran menggapai puncak. Wanita binal ini mulai kedodoran ketika selakangannya naik kemudian menekan sambil menggigit bibirnya, tangannya mencakari pundakku sekuatnya merasakan kontolku masuk mili demi mili, matanya terpejam sangat erat ingin merasakan kontolku tenggelam segera. Ronde pertama yang langsung to the point.

“Aaaaaaaaaaaauh Taaaaaaaaan aaah Taaantee Minaaati benaaar benaaaaaaar hot .. aku suka wanita hot .. ayo tante .. rasakan nikmatnya kontolkuu ..jangan sungkan bicara jorok “ komentarku sambil meremas pantat Tante Ijah yang sangat kenyal, pantatnya benar benar ketat.

Tante Ijah membuka matanya, wajahnya berlumuran dengan keringat membanjir, bau wangi tubuhnya masih semerbak memenuhi depan hidungku.

Tante Ijah melihat ke bawah, kepalanya mengeleng geleng pelan.

“Huuh .. luar biasa kontolmu anak mudaa .. sesak benar dalam memek Tante Minati .. kita pelan pelan sayaaaaaaaaaang .. bisa bisa tante ditinggal teruuuuuuuus “ keluh Tante Ijah dengan mata nanar menatapku, kemudian dengan mesra menagihku PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

“Kamu harus rajin ke rumah tangga .. besok kamu ke rumah yaaa .. kontoli Tante Minati di rumah “ tawar Tante Ijah dengan mimik mengerucut setengah melucu.

“Maunya genjot Tante Minati di gym aja .. aku pengin menggenjot tante dengan alat alat senam .. sambil senam kontolku mengobok obok memek Tante Minati .. “ sahutku dengan mengelus elus pahanya yang masih sangat mulus, wanita ini makin tua makin menjadi jadi. Nafsu birahinya tidak pernah padam, mantan bintang porno ini memang benar benar diduga orang, gila seks, tapi beda dengan Marissa Haque, namun Tante Ijah bukan bangsa orang munafik seperti Marissa Haque.

Perjuangan demi perjuangan dilakukan oleh Tante Ijah agar kontolku lenyap, aku menahan tawa karena Tante Ijah tidak sabaran juga. Selakangannya naik kemudian menekan dengan tenaga kuat, tangannya mencakar pundakku sampai berdarah, kurasakan nyeri luar biasa, aku semakin tidak tahan akan cakaran Tante Ijah itu, sehingga buah dadanya kuremas sekuatnya, membuat Tante Ijah menggeliat tak karuan, selakangannya ibarat mengebor memutar, sehingga batangku seperti mata bor masuk dengan cara miring sedikit, miring ke kanan tenggelam, miring ke kiri tenggelam, aku yakin wanita ini tidak akan tahan dalam 6 menit jika kugenjot paksa, aku yakin itu karena ketika aku membuka pintu kamar ini, Tante Ijah hendak mencapai orgasme dengan masturbasi.

Tante Ijah menghentikan tekanannya ketika kontolku tinggal sedikit lagi.

“Uuuuuuuuuuuh .. benaar benaaaaaar kontolmu ngaceng sangat kurang ajar sayaaaaaaaaang .. tahaaan ya sayaaang .. Tante Minati pengin menekan kuaaat .. hujamin yaaa “ ajak Tante Ijah tanpa aku mengiyakan kemudian menghujamkan selakangannya membuat kontolmu mentok menabrak batas terdalam disertai lenguhan kami bersamaan

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh “ teriak kami panjang merasakan kontolku lenyap sudah, Tante Ijah sampai tak karuan, tangan kirinya berpindah ke atas selakangannya dan mengelus elus merasakan nikmatnya kusetubuhi.

“Kaaamuu aaaaaaaah .. kamu diaaam ajaaaaaaa .. Tanteee Minaaati yang genjot kamuu .. rasakan genjotan Tante Minati sayaaaaaaaaang .. please .. you mus silent “ ucap Tante Ijah dengan menekan telunjuknya ke bibirku. Rupanya Tante Ijah pengin mengendalikan aku, aku sudah yakin hal itu.

Tante Ijah kemudian bergerak naik turun dengan pelan, gerakannya sangat merangsangku, aku menjadi tidak tahan, kuremas pantat keduanya dengan gemas membuat Tante Ijah menggeleng geleng tak karuan




“Aaaaaaaaaaauh ssssssssssssh sssssssssshh hh .. sayaaaaaaaaang aaaaaaaaah …. Taaantee sukaa samaaa saamaa konn kooontooolmuuuuuuuuu “ erang Tante Ijah dengan naik turun, aku pun masih pasif menerima genjotan demi genjotan itu, gerakan Tante Ijah semakin menggila

“Tahaaaaaaan yaaaaaa sayaaang rasakan sodokan Tante Minaaaaaaaaati .. hot khan Tante Minatimu ini ?” goda Tante Ijah dengan nakal

“Iyaaaaaaa aaaaaaaah .. aku suka Tante Minati yang nakaaaaaaaaaaal “ sahutku berusaha bertahan sekuat mungkin.

Kali ini Tante Ijah tidak naik turun, namun maju mundur menyodokiku, gerakan yang cepat itu sampai membuat Tante Ijah tak berkedip memandang kontolku keluar masuk

“Fuuuuuuuck aaaaaaaaaaaaaah .aaaaaaaaauh baby aaaaaaaaah aaaaaaaaayoo aaaaaaauh sssssssssshh ssssssssh .. Ya Tuhaaaaaaaan koook enaaaaaaak bangeeeeeeeeet .. “ seru Tante Ijah tidak tahan lagi.

Genjotan demi genjotan cepat maju mundur itu terasa sekali meremas kontolku kuat kuat.

binal Tante Ijah Aku kemudian dirangkulnya, mukaku terbenam di belahan gudukan buah dadanya itu, tanganku kembali bermain dengan buah dadanya sebelah kiri dan tanganku yang menganggur nemplok di pantat Tante Ijah dan kuremas remas. Sungguh sangat liar wanita ini.

“Sayaaaaaaaang aaaaaaaaaah … Tante nggak kuaaaaaaaat .. maaau sampaaaaaaaaaai “ erang Tante Ijah dengan memejamkan matanya, mendongak ke atas dengan tetap naik turun, kurasakan jepitan memeknya sangat ketat sekali, meremas hebat kontolku.

Genjotan demi genjotan sangat cepat dilakukan oleh Tante Ijah dengan liar, badannya mulai kedodoran menggenjotku, wanita ini akhirnya mendapatkan orgasme setelah genjotan kuat berkali kali menghujam, selakangannya dibenamkan dalam dalam di selakanganku, pada hujaman terakhirnya Tante Ijah mendapatkan orgasme dengan mencakarku kuat, kemudian dadanya tertekan kuat di wajahku. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” erang Tante Ijah panjang, memeknya mengcekeram hebat kontolku. Tante Ijah tegang tak karuan mendongak ke atas, kupegang punggungnya agar tidak terjengkang. Tubuh gemulai itu berkelonjotan kemudian. Terkapar mencapai puncak pendakian mendahului aku.

Kurasakan kontolku disiram cairan orgasme banyak sekali, sampai membasahi selakanganku, tubuh Tante Ijah kemudian terkulai lemas dalam pelukanku, kuturunkan dan kurebahkan kemudian kutindih dengan gemas, kuciumi bibirnya untuk kupagut pelan. nafasnya serasa hancur, dadanya naik turun bernafaskan ibarat dikejar kejar harimau.

Kudiamkan tubuh molek wanita nakal itu dalam tindihanku, kurasakan memeknya memang sangat hangat, lebih ketat di banding adiknya Tante Henny yang kini entah lenyap kemana.


Cara Pasang Apk | Cara Betting | Cara Bermain | Panduan Bermain Casino

Popular Posts